Pada suatu hari, hiduplah seorang wanita tua dengan rambutnya yang berwarna abu-abu di tengah hutan yang rindang. Dia wanita yang kuat, tidak takut kesepian atau pun binatang buas. Dalam kesendiriannya, ia jadi lebih tau bagaimana berbicara dan menjinakkan alam semesta agar semua jatuh suka rela dalam pelukannya.

Rumahnya tua namun dindingnya kuat dan bangunannya kokoh berdiri. Di atasnya ada cerobong asap yang sering digunakan ketika malam mencekamnya dengan dingin. Beruntung, wanita itu pandai merajut. Dengan benang-benang woll yang ia koleksi di dalam lemari itulah koleksi bajunya tebal dan hangat.

Hanya ada benang warna hitam, putih dan abu di dalam lemarinya. Baginya, tidak ada warna yang lebih baik dari itu, warna yang bisa membiarkan warna lainnya bergabung dan tetap indah.

Suatu pagi sebelum matari siap menyapa bumi, wanita itu meraih mantel rajutnya dan mulai membuka pintu depan rumahnya. Masih gelap seperti malam, tapi udaranya sudah dingin. Semesta menamainya, waktu Subuh. Burung belum berkicau, ayam belum berkokok, tapi mata bulatnya yang nyaris kendur itu sudah terbuka sempurna.

“Sudah mau pagi, kau boleh pulang,” kata wanita itu sambil mengenggam teh hangat di kedua tangannya.

Terdengar bunyi raungan lirih disana, seekor harimau yang gagah keluar dari persembunyiannya, dilanjutkan oleh beruang madu hitam yang kini bersandar di salah satu pohon dengan jarak 5 langkah dari pekarangan rumah. Wanita itu tersenyum.

“Aku sudah tidak dalam bahaya, tidak akan ada yang berani datang mengetuk rumahku untuk datang sekadar singgah, membuatku merasa nyaman karena ada teman bersama, kemudian minta diantar pulang dan tak pernah kembali. Kalian sudah boleh pulang, tidurlah se-nyenyak aku tidur malam ini, akan kupastikan tidak ada senjata yang bisa mengusik hidup kalian. Aku akan berjaga,”

Kedua hewan kuat itu menunduk lembut, perlahan mereka melangkah semakin jauh ke dalam hutan. 5 langkah pertama mereka kembali menoleh dan menunduk, mungkin untuk pamit. Wanita itu menunduk juga dalam berdirinya dan melepas mereka dengan senyum, bersamaan dengan menyambut pagi.

“Kau tau, aku cuma tidak ingin banyak yang mampir ke rumahnya. Membuatnya bahagia kemudian meminta diantar pulang. Aku tak sanggup melihat wajah sedihnya melepas sesuatu yang sebenarnya sulit ia lepaskan. Kita harus lebih serius menjaganya ya. Nanti tepat sebelum matari terbenam, kita kembali kesana,”

Sang beruang mengangguk dengan wajahnya yang serius, sedangkan harimau mulai membuang nafasnya panjang dan tak henti-hentinya memandang ke arah hutan, ke arah dimana rumah si wanita tinggal.

“Tidak ada yang boleh meyakitinya,”