​Kita selalu punya alasan untuk bertahan. Jadi, itu hak semua insan memilih tetap tinggal atau pergi. Tidak perlu ragu dengan keputusanmu, kamu yang lebih tau, kamu yang menjalani. Mendengar masukan tentu bukan hal yang salah, tapi terpengaruh dengan keputusan orang lain itulah yang akan menyebabkan kita kehilangan arah. Karena sesungguhnya yang kita butuhkan adalah jalan yang benar-benar bisa kita lewati, tanpa tanya, tanpa ragu.​

Yang terpenting, kita punya alasan dan mampu menjelaskan kenapa kita memilih untuk bertahan. Terlepas dari apapun resikonya, toh selama kita hidup setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing. Pertanyaannya, apakah kita siap dengan resiko itu? Bagaimana jika tidak sesuai ekspetasi? Rencana apa yang bisa membuat kita tidak benar-benar terjatuh?

Aku sedang berada di ujung tanduk. Aku memilih untuk bertahan hingga tanduk itu kembali tegak, beberapa orang lain disana memilih untuk jatuh karena bagi mereka dibawah sana masih air laut jadi ndak papa kalau jatuh “Aku bisa berenang kok, tinggal tahan nafas sebentar,”.

Tapi aku memilih bertahan, berharap tanduk kembali tegak membawaku kembali berdiri dengan harapan yang baru. Pun ndak papa kalau akhirnya tanduk itu roboh, aku sudah siap terjatuh, aku siap menahan napas dan kemudian berenang.

Melihat dari seluruh sudut pandang bisa membuat kita lebih layak memutuskan pilihan. Terkadang, si egois datang dengan embel-embel menyayangi diri sendiri, tanpa mau tau tentang bagaimana ke depannya nanti.

Kita lebih tau apa yang pantas untuk kita, apapun pilihannya kita harus siap sedia untuk segala resiko dan hadiah yang nantinya kita dapat. Jangan takut, namanya juga hidup, ada Allah kok yang Maha Baik.