Pintu lift tertutup sempurna, terkadang gerakannya yang amat terasa membuatku mual. Meski begitu aku merasa tidak memiliki pilihan, karena memang cuma itu akses untukku kembali ke lantai tiga.

Untung hanya sampai lantai 3.

Tak lama pintu besi itu terbuka, pria berperawakan tinggi, mungkin nyaris dua kali lipat dari tinggiku sibuk dengan ransel dan bungkusan di tangannya yang putih bersih.

Menyadari pernah bertemu denganku sebelumnya, ia melepas headset yang musiknya masih terdengar samar-samar. Aku tegak dari sandaranku, seakan otomatis menyambutnya.

Aku melihat bayangan chiki masa lalu yang rasa ayam bawang. Menyadari ada aku di dalamnya, pria dari negeri lain dengan bewoknya yang pirang menyapaku ramah.

“Apa kabar!” katanya.

Aku tersenyum menyambutnya, kami pernah bertemu dibawah senja jingga di atas motor ojek online dengan tujuan yang sama. Pulang. “You are so cute!” menjadi satu kata perkenalan yang cukup mengesankan darinya.

Aku menjawab sebisaku berbahasa Inggris, masih tertarik dengan chiki yang lebih dari 2 bungkus dalam genggamannya, aku bertanya ramah. “It is snack?

Lidahnya masih kaku menjawab dan menawarkanku sebungkus saja. “Kamu mau?” katanya yang kudengar seperti anak kecil yang baru bisa sedikit bicara.

Aku menggeleng bertanya tentang cemilan yang ia bawa. Kembali berbahasa Inggris dia bilang itu untuk temannya. “What’s your name?” aku menjawab namaku, tentunya.

Dia mengulangnya, aku tau ia sedang merekamnya. Aku bertanya kembali, entah benar ingin tau atau hanya basa-basi. Ia menjawab dan aku mengulangnya, aku sedang merekamnya.

Lantai tiga jadi terasa begitu jauh, ia sedikit berbincang tentang cemilan dan teman-temannya yang ada di lantai 9. Aku bilang, itu cemilan yang enak dan ia menyambut setuju dengan wajah ceria.

Pria bule dewasa yang rasanya masih seperti anak-anak. Lidahnya masih sangat asing dengan bahasa Indonesia, senyumnya tak luntur dari wajahnya yang tegas, tapi aku senang bertemu dengannya, lagi. Dia membunuh sisi introvertku.

Bye!

Nice to know you Wak!

Nice to know you (namaku)”

Ah benar, kami merekam nama dengan baik.