Belakangan ini sedang ramai razia buku. Dimulai dari disitanya buku-buku yang diyakini ‘Pemikiran kiri’ atau paham Komunis di daerah Kediri, kini yang terbaru razia buku yang sudah sampai di Padang, Sumatera Barat.

Razia buku ini bukanlah jadi yang pertama kali di Indonesia. Pada zamannya dulu, aparat pemerintahan juga pernah melakukan razia besar-besaran buku yang dianggap bisa mempengaruhi rakyat untuk menjadi pribadi yang melawan.

Salah satunya adalah karya dari Pramoedya Ananta Toer yang dulu jadi buku yang selalu dibahas sembunyi-sembunyi oleh beberapa mahasiswa dan akan dibakar jika ketahuan aparat hukum.

Mengerikan memang, rasanya seperti kembali ke jaman dulu yang baca buku aja susah. Dan harus rela melihat buku-buku itu dibakar di depan mata jika sampai ketahuan.

Entah kenapa di zaman yang modern ini, bisa-bisa terjadi lagi yang namanya razia buku. Terlepas dari genre apa yang dirazia, tetap saja itu artinya mereka membatasi para pembaca untuk lebih mengenal sejarah dan kenyataan.

Kamu tidak jadi komunis hanya dengan membaca buku komunis. Sebagaimana kamu tidak jadi kambing sehabis makan sate klathak (Indie Book Corner, Yogyakarta)

Memilih Solusi yang Tepat

Bukankah zaman yang berubah juga seharusnya menular ke bagaimana cara kita berpikir dan menentukan pilihan? Menyamakan larangan dengan jaman orde baru seperti ini, aku rasa udah ndak berpengaruh banyak di zaman sekarang.

Ketakutan rakyat menjadi komunis? Bukankah seharusnya lebih takut rakyat tidak tau apa itu sebenarnya komunis? Kenapa ndak coba bikin bedah buku dan memberi pemahaman yang baik kepada pembaca tentang bahaya dan sejarah dari komunis itu sendiri? Aku rasa, masyarakat masa kini sudah lebih cerdas.

Rasanya, semakin dilarang, si kutu buku akan semakin penasaran dengan buku-buku komunis. Jangan heran kalau razia seperti ini malah meningkatkan penjualan buku-buku pemikiran kiri itu.

Mengenalkan Sejarah

Pelajaran sejarah di sekolah jadi terasa membosankan karena memang materinya ya itu-itu aja. Nyatanya setelah beranjak dewasa, sejarah yang seharusnya diketahui adalah tentang hal-hal seperti ini.

Bisa-bisanya dadakan seperti ini ada razia buku. Ndak heran sih akan ada aja yang aneh-aneh menjelang pemilihan umum, tapi mengusik ketenangan pecinta literasi Indonesia seperti ini, rasanya sangat tidak sopan.

Terkesan Kriminal

Penjual buku yang seharusnya mencerminkan gambaran seorang kutu buku kini malah lebih seperti kriminal karena harus menghadapi razia buku yang sewaktu-waktu akan datang.

Apalagi kebanyakan yang dirazia lahir dari toko buku kecil pinggir jalan yang untungnya pun tidak seberapa (baca disini).

Maka ke depan dibutuhkan adalah kesadaran publik, yaitu bahwa kita harus menggunakan nalar sehat. Kalau kita melarang sesuatu, harus ada argumentasi, harus dipelajari. Jadi, penyitaan buku adalah bentuk dari kedunguan (Beni Susetyo – Budayawan).

Well apapun alasannya razia buku rasanya bukan pilihan yang tepat untuk mewujudkan niat. Ini bukan lagi zaman Orde Baru, mencoba untuk lebih kreatif untuk mencegah pemikiran komunis dengan cara-cara yang cerdas tentunya akan membuat pembaca lebih memahami dan mengerti.

Banyak kok anak muda yang aktif, ajak lah kumpul-kumpul bahas soal hal-hal seperti ini. Kasih lah kita yang miskin tau ini tentang bahaya komunis ini dengan cara yang manusiawi.

Kita sedang berjuang meningkatkan minat baca anak Indonesia yang aku rasa sudah jauh berkembang baik, semoga tidak lagi anjlok hanya karena cara lama yang meresahkan para pecinta buku di Ibu Pertiwi ini.