Kemarin sebentar berkeliling di Gramedia. Memang sudah biasa sih kalau pulang kantor dan merasa suntuk pasti berkunjung kesana, random memilih buku dan membacanya satu bab di sudut rak.

Nah semalam aku membaca buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow karya Yuval Noah Harari. Buku ini termasuk di jajaran buku Best Seller yang membahas tentang sains, sejarah, filsafat dan ilmu tentang kehidupan manusia.

Aku memutuskan membaca mulai dari halaman 357 yang membahas tentang terancamnya manusia karena mesin-mesin atau teknologi canggih di masa depan. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya sudah banyak mesin yang berhasil mengalahkan kuis yang lawannya adalah manusia.

Seperti ada sihir, aku malah semakin terlena sama buku itu. Mungkin karena aku juga pernah berandai-andai, gimana ya manusia nanti kalau semua pekerjaan sudah sukses diambil alih oleh mesin?

Agama-tekno

Halaman menariknya adalah ketika buku ini mengatakan bahwa akan ada agama baru yang muncul. Bukan maksud untuk mengajak kalian mempercayai hal ini. Ini hanya gambaran dari buku Homo Deus ini. Sebuah agama-tekno yang di masa depan bisa menaklukan dunia dengan janji penyelamatan melalui algoritma atau gen-gen.

Atau, ringkasnya ya tetap saja tentang teknologi canggih yang membuat manusia malah mungkin merasa lebih meyakini hal tersebut ketimbang agamanya, karena merasa sangat yakin akan hal itu.

Silicon Valley

Buku ini juga bilang Silicon Valley akan menjadi tempat yang lebih menarik di masa depan. Tempat dimana guru-guru hi-tech yang sedang asyik dengan inovasi-inovasi terbarunya. Silicon Valley sendiri adalah suatu tempat di California yang bisa disebut sebagai rumah teknologi terbaru.

Hingga pada akhirnya mungkin hanya individu-individu kreatif dan cerdas saja yang mungkin bisa bertahan jika ketika waktu dimana teknologi benar-benar berhasil menguasai dunia.

Kecerdasan Teknologi

Tidak dapat dibohongi bahwa memang sejatinya manusia merasa sangat terbantu untuk itu. Ditambah lagi dengan canggihnya Google Assistant yang bahkan bisa lebih mengerti kita dibanding kita sendiri. Atau teknologi kecerdasan (Artficial Intelligence) yang sudah mendeteksi wajah orang lebih akurat daripada manusia lainnya.

Dalam buku Homo Deus ini juga ada beberapa contoh mesin canggih, salah satunya EMI yang memproduksi musik sempurna setara dengan maestro legendaris tanpa cacat. Atau mesin yang mengalahkan dua orang peserta lain dalam sebuah kuis. Atau drone yang sudah bisa terbang sendiri tanpa seorang pilot, dll yang mungkin bisa kita renungi dari sekarang.

Kesimpulan

Setelah membaca buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari ini, aku merasa kita sebagai manusia memang sangat amat merasa terbantu dengan semua itu, tapi bukankah lama-kelamaan lebih seperti dimanjakan? Dan tanpa sadar mengurangi produktifitas kita sebagai seorang manusia yang sudah semestinya bekerja?

Aku pikir zaman yang benar-benar berakhir adalah ketika sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh manusia, ketika semua pekerjaan sudah diambil alih oleh kecanggihan teknologi, atau mungkin bisa dibilang ‘Punah’? Meski memang, sebenarnya semua inovasi itu hasil dari kreatifitas manusia itu sendiri dengan niat ingin terus bergerak maju.

Karena itu dalam Islam sendiri, salah satu tanda akhir zaman ya semakin canggihnya kehidupan di dunia.

Manusia merasa terbantu dan menggunakan teknologi canggih dan cerdas itu, bukankah sama dengan ikut andil mempercepat akhir dari zaman itu sendiri? Mungkin.