Hari itu kereta senggang, karena sedang hari kejepit dan banyak pekerja yang mengambil waktu libur karena ‘nanggung’ jadi aku cukup nyaman walau pulang pergi dengan kereta listrik yang biasanya penuhnya sampai pintu tak bisa ditutup.

Sore itu langitnya sedang cantik, warna oranye kehitaman. Aku berdiri di sudut gerbong wanita dekat kursi prioritas. Stasiun Tanah Abang yang biasanya padat sampai dorong-dorong hari itu senggang jadi aku bisa memilih untuk berdiri di sudut mana saja yang aku suka.

Hal tersebut sepertinya juga tidak membuatku bahagia sendirian, ada seorang wanita paruh baya sekitar 40 tahunan. Tubuhnya kurus, kulitnya putih seperti wanita dari negeri matahari terbit. Matanya kecil, bentuk wajahnya tegas, sepertinya wanita itu wanita karir yang cerdas.

Ia berdiri di sudut pintu, tepat di depanku. Bedanya, aku di sudut pintu sebelah kanan dan wanita itu di sudut pintu sebelah kiri. Aku sedang melamun, dan wanita ini membuatku terbangun.

Disaat orang-orang menundukkan kepalanya bukan untuk mengheningkan cipta melainkan untuk sebuah layar, wanita dengan kacamata tanpa bingkai berbentuk persegi itu mengeluarkan koran dari tote bag di tangan kanannya.

Bunyi koran yang dibuka itu terdengar jelas, seperti ketika seorang bapak-bapak yang tengah menikmati pagi dengan koran dan secangkir kopi, tak lupa pisang goreng.

Wanita itu sama sekali tidak terlihat kesulitan setiap kali membalik korannya. Meski berdiri, ia terlihat begitu nyaman dan fokus dengan deretan tulisan kecil yang ada di hadapannya.

Kresek kresek kresek…

Aku melihatnya membalik koran ke halaman Politik, ia berhenti cukup lama disana, melipat koran menjadi setengah bagian. Sesekali mendekatkan koran ke wajahnya yang mungkin tulisan itu tercetak kurang jelas.

Kemudian membaliknya lagi ke bagian bawah, tak perduli berapa kali sudah pintu di hadapannya terbuka, tak perduli berapa orang yang sudah lalu lalang keluar masuk di hadapannya, koran itu, mengunci dirinya.

Langit oranye sudah pulang, begitu pula dengannya yang sudah terlihat menutup koran dalam genggamannya. Ia sedikit membenarkan kacamatanya, melindungi koran dalam tasnya dan kemudian turun sambil berlari kecil menghindari hujan.

“Membunuh bosan tidak harus selamanya dengan layar bukan?” Pikirku sambil menatap penumpang lain yang masih menunduk di hadapan layar.