Ingat kemarin aku minta kamu sepakat ciptakan titik? Tapi kamu pergi meninggalkanku dengan koma tanpa arti, tanpa makna, tanpa kamu. Hilang.

Aku bingung, kenapa aku tidak sebegitu berani membuat titik tanpa sepakat denganmu? Kenapa aku seculun itu? Dan kini aku menjadi yang paling tersiksa karena menunggu kesepakatanmu.

Bagaimana bisa kamu kembali setelah koma, dengan spasi yang kemudian gegas kamu ciptakan titik? Tanpa menunggu sepakat meski aku memang sudah bersiap untuk sepakat?

Aku bersyukur kau datang kemudian pergi. Aku belajar bahwa Tuhan kirim kamu untukku belajar lebih banyak lagi, belajar menahan amarah yang pada akhirnya menjadi tangis.

Aku hanya tak mengira percakapan panjang itu menjadi tanpa arti. Aku hanya tak menyangka kamu sedia buang waktumu untukku. Jika pada akhirnya kau bersama penyair yang lain.

Tidak, aku tidak membenci. Hanya saja, bukannya sesuatu yang dimulai dengan kesepakatan harus diakhir juga dengan kesepakatan?

Setidaknya kita pernah buat cerita, akhirilah bersamaan meski tidak menjadi satu kesatuan.

Egois.