Menyaksikan perdebatan antara Tsamara Amany dan ibu ustadzah Azizah di TvOne memaksa aku disini untuk sedikit berpendapat. Soal ilmu memang aku bukan ahlinya, dan sebagai seorang wanita pun poligami bukanlah hal yang membahagiakan.

Namun, rasanya ada satu hukum yang memang tidak bisa ditentang. Hukum Allah SWT pemilik semesta ini adalah hukum yang benar-benar mengundang murka Allah SWT jika makhluknya yang bahkan tidak ada sekecil debu pun ini berani menentang.

Entah apa motif dari partai baru ini, perihal politik aku pun masih miskin ilmu. Jauh, tapi rasanya aku ini sedang ketakutan setengah mati menyaksikan pendapat mba Tsamara tentang ketidak setujuannya akan hukum poligami.

Naudzubillah namanya menentang Allah SWT itu bahaya mba, mas. Ingat kita ini cuma numpang di dunia, kita ini sedang nabung bisa beli rumah dimana, Surga atau Neraka. Katanya menghargai setiap agama, tapi apakah ini yang juga disebut menghargai?

Berdasarkan Survey

Menggunakan data yang sangat ia yakini akurat rasanya memang cukup membantu untuk mereka menyuarakan penentangan tentang poligami. Namun, benar juga apa yang dikatakan bu Azizah bahwa data yang muncul ke permukaan tidaklah secara keseluruhan, meski bisa disebut mewakilkan.

Katanya, penyebab utama perceraian adalah poligami. Benarkah poligami? Memperhatikan berita-berita artis poligami rasanya tidak bisa dibilang penyebab utama perceraian adalah poligami. Coba diulik, poligami atau selingkuh?

Jika menikahi wanita lain tanpa izin tetap dikategorikan ‘Selingkuh’. Jadi, kenapa harus poligaminya?

Pun poligami dari Allah SWT memiliki aturannya sendiri. Jika terkesan menyakiti, tanyalah si pelaku yang berani melakukan poligami. Bukan Yang mengatur adanya poligami itu sendiri.

Kenapa yang dilarang hukum poligami? Kenapa bukan mereka yang berpoligami dan melanggar syariat dan aturan Allah SWT? Bicara tentang keluh kesah wanita di poligami tentu sedih. Manusiawi. Tapi apa bedanya dengan keluh kesah seorang istri yang suaminya jarang pulang ke rumah atau menelantarkan keluarga? Tentu sedih. Apapun kasusnya, apapun masalahnya, manusia pasti punya rasa sedih.

Kenapa Harus Poligami?

Kenapa tidak bisa mendukung dari sudut pandang “Melindungi Perempuan” misalnya? Kenapa harus Poligami yang jelas-jelas sudah ada di Al Quran? Bukankah ini termasuk tidak menghargai agama lain meski mba Tsamara mengatakan melihat dari sudut pandang sosial?

Kenapa harus di-tidak bolehkan sekalipun hanya dalam ruang lingkup kader? Kenapa tidak membuat syarat-syarat tertentu untuk poligami dari yang sudah jelas Allah SWT turunkan? Kenapa tidak dipertegas saja ke permukaan soal hukum tersebut?

Mendukung Poligami

Aku bukan bagian yang mendukung poligami, tapi disini aku bicara tentang hukum Allah SWT yang malah terkesan disalahkan secara terbuka oleh seseorang yang bahkan tidak berada dalam keimanan tersebut.

Jika poligami bisa disalahkan, lambat laun hukum lain pun mampu mereka tentang. Dengan alasan, sosial.

Tentang Mereka yang Poligami

Wallahuallam, sebenarnya itu tanggung jawab mereka dengan keputusannya, dan tanggung jawab kepada Allah SWT tentunya. Atau misalnya diluar poligami, sama seperti keputusan seorang suami yang selingkuh dan meninggalkan keluarganya. itu tanggung jawab mereka dengan keputusannya, dan tanggung jawab kepada Allah SWT tentunya. Yakan?

Allah SWT pun sudah sangat melindungi perempuan (bagi mereka yang mengetahui. Kalau belum tau, monggo dibaca Al Quran-nya).

“Poligami itu bukan sesuatu yang dianjurkan, tapi dibolehkan. Jadi itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang ilmunya sangat baik agamanya, karena berlaku adil itu sulit,” Oki Setiana Dewi

Tapi coba deh penggunaan katanya itu diubah. Sebenarnya yang aku tangkap PSI ini hanya ingin melindungi perempuan, tapi anehnya kenapa harus bawa-bawa agama? Bawa-bawa hukum Allah SWT Penguasa dunia? Kenapa harus poligami yang memang dari Islam?

“Kenapa kita di Indonesia ini poligami dikatakan buruk, karena dipraktikan oleh orang-orang yang buruk akhlaknya, buruk agamanya. Sehingga mereka nggak bisa berlaku adil. Tapi kalau orang-orang yang agamanya baik, akhlaknya baik, sunah-sunah lain dikerjakan misalnya salat malam nggak pernah ditinggal, ngajinya dikerjakan, itu mungkin bisa berlaku adil,” Oki Setiana Dewi

Ada lagi tambahan dari mba Oki Setiana Dewi disini. Untuk siapapun yang mungkin akan atau sudah berpoligami.

“Kalau untuk Oki dan Abang (Ory Vitrio), ilmu kita belum tinggi, agama kita juga masih belajar. Sunah-sunah lain juga kita belum dilakukan. Jadi kita fokus ke sunah-sunah yang lain saja,” Oki Setiana Dewi

Perpecahan

Mungkin pada akhirnya keputusan ini malah memancing amarah mereka yang beriman. Mereka yang marah bukan berarti mereka yang berpoligami, namun mereka yang ingin melindungi bumi agar terus dalam ridha Allah SWT dengan melindungi aturan-aturan Allah SWT.

Mungkin kelompok ini harus coba pelajari dari sisi agamanya juga. Diskusi dengan pemuka agama, coba cari jalan keluar yang baik tentang poligami yang “kata” datanya mba Tsamara ini akurat.

Sudah menyentuh hukum Allah SWT seharusnya sudah memahami, dan seharusnya juga sudah benar-benar bertukar pikiran dengan ahli agama. Jika kekuatannya hanya untuk “Melindungi Perempuan” silahkan mencari jalan keluar tanpa mengusik hukum Allah SWT.

Dan mungkin, dengan berharap tidak adanya poligami, wanita itu sendiri bisa berdiskusi sebelum menikah atau saat proses lamaran, meminta untuk menjadi satu-satunya istri atau adakah niat sang calon untuk berpoligami?

Bukankah menikah itu sakral, bukankah wajar jika menanyakan hal tersebut sebagai sebuah kesepakatan sebelum berlayar bersama ke dalam sebuah pernikahan?

“Selama saya masih hidup dan jika saya masih mampu menunaikan kewajiban saya sebagai seorang istri, maka mas Furqan tidak boleh menikah lagi,” adegan Ketika Cinta Bertasbih.

Ini yang aku tonton dari filmnya mba Oki Setiana Dewi, kalau ndak salah judulnya Ketika Cinta Bertasbih.

Dear PSI, aku iki ketakutan loh denger kamu ngomong. Takut sama adzab Allah SWT.

Oia, jangan nonton yang dari channel-nya PSI langsung ya. Karena disana ndak ada bagian saat ustadzahnya bicara.

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Jika mereka berani berpendapat, kenapa kita tidak? Jika memang ada yang memiliki sudut pandang lain, monggo diutarakan dengan tenang dan cerdas. Matur nuwun.